Sore itu, setengah tahun yang lalu… Terlepas
sudah gelar mahasiswa dari pundakku. Digantikan
dengan gelar sarjana sains yang melekat di
belakang namaku.
Ah Pena… Seandainya kau rasakan kebahagiaanku
ketika itu. Isak haru ibu, ucapan selamat dari
dosen dan sahabat. Sore itu, senyum tak lepas
dari bibirku.
Ah Pena… Sedikit gamang menyelimutiku ketika
itu. Apa yang akan aku lakukan setelah lulus?
Melanjutkan S2? Ah rasanya berat, wahai Pena…
Cukup sudah rasanya aku mengejar ilmu dunia.
Cukup sudah aku merasakan betapa tidak
nyamannya harus bercampur-baur dengan lawan
jenis yang bukan mahramku. Cukup sudah kuliah,
tugas, dan serentetan praktikum yang menyita
waktuku…
Kerja? Sayang rasanya hijab syar’i ini harus
kutanggalkan demi mengejar setumpuk kekayaan.
Sayang rasanya bila kulitku ini harus legam
karena sering keluar rumah. Sayang rasanya jika
wajah ini harus diumbar karena tuntutan
pekerjaan. Terlalu sayang, wahai Pena…
Ah Pena… Mungkin menikahlah yang pas untukku
saat ini. Kau tahu, wahai Pena, bayang indah
pernikahan berkelebat dalam pikiranku. Mungkin
untuk ukuran orang sekarang, usiaku terlalu dini
untuk menikah. Akan tetapi, aku ingin membuat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bangga
karena banyaknya umat beliau shalallahu ‘alaihi
wa sallam kelak. Dan tak lain dan tak bukan,
tujuan itu hanya bisa tercapai jika aku menikah
dan mempunyai keturunan yang shalih dan
shalihah. Keturunan yang akan menambah bobot
bumi dengan kalimat tauhid. Sungguh indah kan,
Pena?
Akhirnya, belum genap tiga bulan dari hari
pendadaran skripsiku, akupun menjalani wisuda
S3. Lho? Iya, wisuda menjadi S3 (estri/istri). Aku
dipersunting oleh seorang pria tampan dan baik
hati yang kini nomor handphone-nya kusimpan
dalam phonebook-ku, dan kunamai ia dengan
sebutan “zauji ”.
Pasindangan, 18 Ramadhan 1431
Memori ujian pendadaran 13 Januari 2010.
Dikutip dari : http://
arnida.blog.ugm.ac.id/2010/08/30/wisuda-s3/
sudah gelar mahasiswa dari pundakku. Digantikan
dengan gelar sarjana sains yang melekat di
belakang namaku.
Ah Pena… Seandainya kau rasakan kebahagiaanku
ketika itu. Isak haru ibu, ucapan selamat dari
dosen dan sahabat. Sore itu, senyum tak lepas
dari bibirku.
Ah Pena… Sedikit gamang menyelimutiku ketika
itu. Apa yang akan aku lakukan setelah lulus?
Melanjutkan S2? Ah rasanya berat, wahai Pena…
Cukup sudah rasanya aku mengejar ilmu dunia.
Cukup sudah aku merasakan betapa tidak
nyamannya harus bercampur-baur dengan lawan
jenis yang bukan mahramku. Cukup sudah kuliah,
tugas, dan serentetan praktikum yang menyita
waktuku…
Kerja? Sayang rasanya hijab syar’i ini harus
kutanggalkan demi mengejar setumpuk kekayaan.
Sayang rasanya bila kulitku ini harus legam
karena sering keluar rumah. Sayang rasanya jika
wajah ini harus diumbar karena tuntutan
pekerjaan. Terlalu sayang, wahai Pena…
Ah Pena… Mungkin menikahlah yang pas untukku
saat ini. Kau tahu, wahai Pena, bayang indah
pernikahan berkelebat dalam pikiranku. Mungkin
untuk ukuran orang sekarang, usiaku terlalu dini
untuk menikah. Akan tetapi, aku ingin membuat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bangga
karena banyaknya umat beliau shalallahu ‘alaihi
wa sallam kelak. Dan tak lain dan tak bukan,
tujuan itu hanya bisa tercapai jika aku menikah
dan mempunyai keturunan yang shalih dan
shalihah. Keturunan yang akan menambah bobot
bumi dengan kalimat tauhid. Sungguh indah kan,
Pena?
Akhirnya, belum genap tiga bulan dari hari
pendadaran skripsiku, akupun menjalani wisuda
S3. Lho? Iya, wisuda menjadi S3 (estri/istri). Aku
dipersunting oleh seorang pria tampan dan baik
hati yang kini nomor handphone-nya kusimpan
dalam phonebook-ku, dan kunamai ia dengan
sebutan “zauji ”.
Pasindangan, 18 Ramadhan 1431
Memori ujian pendadaran 13 Januari 2010.
Dikutip dari : http://
arnida.blog.ugm.ac.id/2010/08/30/wisuda-s3/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar