Sabtu, 06 Agustus 2016

Teladan Dalam Mencari Rizki

Kemarin siang, di lampu merah di jalan Gajahmada, Semarang, saya melihat seorang gadis kecil berumur 7 tahunan yang menjajakan koran. Lalu ada seorang Ibu yang membonceng sepeda motor mengulurkan uang dua ribuan ke anak tersebut.
Anak tersebut menolak, karena Ibu tersebut ternyata tak ingin membeli koran, hanya ingin memberi uang kepadanya. Ibu itu terus mengulurkan uang, bahkan dilempar ke atas koran yang disunggi di kepala anak kecil itu.
Uang tersebut lalu jatuh ke tanah, tertiup angin. Anak tersebut dengan sigap mengejar dan memungut uang itu. Lalu diberikan kembali kepada sang Ibu. Ibu itu menolak.
Sang anak menangis dan berujar: "Aku dodolan koran, bu.. Duduk ngemis...", menegaskan dia berjualan koran, bukan mengemis.
Ibu itu akhirnya menerima uang itu, dan lampu keburu hijau. Anak itu menangis terus sambil berjalan gontai ke pinggir jalan.
Tak tega, saya mencari tempat untuk parkir motor, mendatangi anak itu. lalu saya ajak ngobrol. Rupanya anak tersebut merasa sakit hati dan terhina juga sedih karena diperlakukan seperti pengemis.
Kagum benar saya dengannya. Karena saya tahu dia tak mau menerima uang pemberian, maka saya berniat membeli koran saja. Sepuluh eksemplar, ujar saya. Ajaibnya dia berujar:
"Opo njenengan mau baca sepuluh koran sekaligus, Pakdhe? Satu saja..".
(Gusti, karena engkau sebaik-baik penjaga dan pecinta, jaga anak kecil itu dan kucuri cinta sebanyak-banyaknya.)

[Tulisan Akh Rifai Subagyo]

Sabtu, 21 Mei 2016

Doa Qunut Nazilah Syaikh Idris Akbar Untuk Suriah


Ikhlas Tanpa Pamrih?

Ikhlas itu bukan berarti tanpa pamrih.

Didalam salah satu haditsnya Rasulullaahi shallallaahu 'alayhi wa sallam bersabda :
“Takutlah kalian dari api neraka, sekalipun hanya dengan bersedekah separuh kurma.”
(HR. al-Bukhari)

Dalam hadits tersebut Rasulullaah memerintahkan kepada kita untuk bersedekah (dengan ikhlas) agar kita terhindar dari api neraka.
Jadi... ikhlas itu bukan berarti tanpa pamrih/tidak boleh mengharapkan imbalan.
Tapi justru ikhlas itu berpamrih.
Tapi pamrihnya hanya kepada Allah saja.

Menuntut 'Ilmu dan Keberkahan


Taubat Dusta


Penjelasan Ringkas Tentang "Bengkoknya Wanita"


Sa'adatik Sa'adatiy


Penyebab Hidupmu Menderita


Apakah Semua Orang Akan Masuk Neraka Terlebih Dahulu?

Allâh Ta'ala berfirman:
وَإِن مِّنكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْماً مَّقْضِيّاً

ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّنَذَرُ ٱلظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيّاً

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka).
Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa
dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”
(Qs Maryam/19: 71-72)

Penjelasan dari Ayat

Ayat ini (ayat pertama) merupakan kabar berita dari Allâh Ta'ala kepada seluruh makhluk, baik orang-orang yang shaleh ataupun durhaka, Mukminin maupun orang kafir. Setiap orang akan mendatangi neraka. Ini sudah menjadi ketentuan Allâh Ta'ala dan janji-Nya kepada para hamba-Nya. Tidak ada keraguan tentang terjadinya peristiwa itu dan Allâh Ta'ala pasti akan merealisasikannya.

Yang perlu diketahui, Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian kata al-wurûd (mendatangi neraka) dalam ayat tersebut. Sebagian Ulama menyatakan, maksudnya neraka dihadirkan di hadapan segenap makhluk, sehingga semua orang akan merasa ketakutan. Setelah itu, Allâh Ta'ala menyelamatkan kaum muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Atau menurut penafsiran yang lain, semua makhluk akan memasukinya. Akan tetapi bagi kaum Mukminin meskipun mereka memasukinya, neraka akan menjadi dingin dan keselamatan bagi mereka. Di samping itu, terdapat penafsiran lain yang memaknai kata al-wurûd dengan mendekati neraka. Dan ada pula yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah panas badan yang dialami kaum Mukminin saat menderita sakit panas.

Syaikh ‘Abdul Muhsin menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat. Pertama, semua orang akan memasuki neraka, akan tetapi kaum Mukminin tidak mengalami bahaya. Kedua, semua orang akan melewati shirâth (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya. Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Katsîr rahimahullâh dari Ibnu Mas’ûd radhiallâhu'anhu.

Dari dua pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullâh (wafat tahun 792 H) memandang bahwa pendapat kedua itulah yang paling kuat dan râjih.

Beliau berkata,

“Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian al-wurûd dalam firman Allah Surat Maryam ayat 71, manakah pendapat yang benar? Pendapat yang paling jelas dan lebih kuat adalah melintasi shirâth.”

Untuk menguatkan pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullâh berhujjah dengan ayat selanjutnya (Qs Maryam/19:72) dan hadits riwayat Imam Muslim rahimahullâh dalam kitab Shahihnya no. 6354.

Imam Muslim rahimahullâh meriwayatkan dengan sanadnya dari Umm Mubasysyir radhiallâhu'anha, ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda saat berada di samping Hafshah radhiallâhu'anha,

“Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka”.

Hafshah (dengan merasa heran) berkata,

“Mereka akan memasukinya wahai Rasulullah”.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam pun menyanggahnya. Kemudian Hafshah radhiallâhu'anha berdalil dengan membaca ayat di atas (Qs Maryam/19: 71).

(Mendengar ini) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda:

“Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut)”.
(Qs Maryam/19: 72)
Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullâh mengatakan bahwa Beliau (Rasulullah) Shallallahu 'Alaihi Wassallam mengisyaratkan (dalam hadits tersebut) bahwa maksud al-wurûd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya.

Selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Seperti halnya seseorang yang dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan Allah telah menyelamatkannya.

Sebagaimana Allâh Ta'ala berfirman yang artinya:

"Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan Hûd..." (Qs. Hûd /11:58),

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh..." (Qs. Hûd /11:66),

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib..." (Qs. D /11:94).


Siksa Allâh Ta'ala tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka. Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allâh Ta'ala anugerahkan bagi mereka secara khusus, niscaya siksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wurûd (mendatangi neraka), maksudnya adalah orang-orang akan melewati neraka dengan melintasi shirâth, kemudian Allâh Ta'ala menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di neraka dalam keadaan berlutut”

Senada dengan keterangan di atas, sebelumnya Imam Nawâwi rahimahullâh (wafat tahun 676 H) pun merâjihkan arti kata al-wurûd adalah menyeberangi shirâth. Beliau rahimahullâh berkata saat menerangkan hadits Umm Mubasysyir radhiallâhu'anha:

“Yang benar, maksud al-wurûd (mendatanginya) dalam ayat (Qs Maryam/19:71) adalah melewati shirâth. Shirâth adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh ke dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat”.

Dalam kitab al-Jawâbuss Shahîh (1/228), Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâh juga merâjihkan bahwa pengertian al-wurûd adalah menyeberangi shirâth.

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafizhahullâh juga memilih pendapat ini dalam tafsirnya.



Orang-orang yang Bertakwa Selamat Melintasi Shirâth

Allâh Ta'ala menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka. Amal shaleh akan sangat berpengaruh dalam proses melewati shirâth. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat menyeberanginya.

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh mengatakan:

“Orang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, atau secepat jalannya kuda terlatih atau seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlari-lari, berjalan atau merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan kadar ketakwaannya. “
Sebagaimana Allâh Ta'ala berfirman yang artinya

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah Ta'ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”

Semoga Allâh Ta'ala dengan Rahmat dan Kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.



Pelajaran Dari Ayat

Mengandung penetapan kewajiban mengimani keberadaan neraka.

Penetapan kewajiban mengimani shirâth.

Penetapan kepastian menyeberangi jembatan di atas neraka.

Ketetapan Allâh Ta'ala pasti terjadi.

Orang-orang bertakwa akan selamat dari siksa neraka.

Orang-orang fâjir (berbuat jahat) akan binasa karena kesyirikan dan maksiat mereka.


Wallâhu a’lam.

Sumber : Tulisan: Ustadz ‘Ashim bin Musthafa, Lc. di Majalah As-Sunnah Edisi 09/Dzulhijjah 1430H.

Sabtu, 07 Mei 2016

Pesan Ramadhan Untuk Kaum Muslimin

Seakan-akan aku melihat ramadhan…, lalu kusapa ia, “Hendak kemana dikau?”
Dengan lembut ia seakan-akan berkata, “Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama.Tolong sampaikan pesanku untuk setiap muslim : Sesungguhnya syawaal telah tiba, salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita. Aku tidak tahu apakah tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi atau tidak??.
Jika tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi maka aku berharap ia bisa menyambutku dengan lebih baik lagi, dengan penuh tilawah dan sholat malam.
Aku sangat sedih jika mengingat penyambutannya yang kurang berkenan di hatiku. masih terlalu banyak canda, perkataan yang sia-sia serta waktu-waktu yang terbuang tanpa arti...padahal ia tahu bahwa jika ia menyambutku dengan baik maka tentu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi kelak di pintu Ar-Royyaan….
Akan tetapi semua sudah berlalu dan sudah terlanjur. Semoga setetes air mata yang pernah berlinang dari kedua matanya karena takut tidak bisa menyambutku dengan baik akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya.
Sampaikan pula kepadanya bahwa bukanlah lebaran yang hakiki adalah dengan hanya memakai baju baru, akan tetapi lebaran yang hakiki adalah bergembira dengan keimanan dan semangat baru dalam beribadah. Janganlah sepeninggalku ia terjerumus kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan…ingatlah sesungguhnya Tuhan yang ia sembah tatkala ia menjamu kedatanganku…Dialah Tuhan yang juga ia sembah tatkala aku pergi….
Demikianlah pesanku kepadanya, sampaikan salamku kepadanya, semoga ia masih tetap terus merindukan kedatanganku di tahun-tahun mendatang…. sampai ketemu di pintu Ar-Royyaaan….”
(Ustadz Firanda Andirja)

Selasa, 26 April 2016

Galau


Kegundahan dan kesedihan itu karena dua perkara :
1. Terlalu berhasrat terhadap dunia dan mati-matian mengejarnya.
Atau
2. Jarang melakukan kebaikan dan amal shalih.
(Ibnul Qayyim - 'Iddatu ash-Shabiriin wa Dzukhriyyaty asy-Syaakiriin)

Senin, 25 April 2016

Kesedihan (Ibnul Qayyim)

KESEDIHAN itu melemahkan hati, memupuskan cita, berdampak buruk pada impian. Tidak ada yang lebih disukai setan melebihi kesedihan seorang mu'min. (Ibnul Qoyyim)

Khutbah Haji Wada'

Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah haji wada' :
"Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kamu semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci.Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian!
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-’Abbas bin’Abdul-Muththalib.
Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.
Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi, ia bangga jika kamu dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejak Allah menjadikan langit dan bumi.
Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu.Tetapi, jika mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang jika kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!
Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi tiap-tiap pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas.
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!
Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang jika kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al Quran).
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!
(Diceritakan kembali oleh Andita Sely B dari sebuah hadis yang dituturkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Ente Jangan Ngerasa Bener Sendiri, Tong...

Saya, termasuk orang yg tidak membenarkan adanya ritual-ritual baru dalam islam.
Seperti peringatan kematian (dengan tahlilan) [1], natalan dengan shalawatan (eh- kalau yg ini belum ada), atau juga nyepian dengan i'tikafan (yg ini jg belum ada).
"Loh, kok jadi ngelantur kemana-mana?"
Lha iya, kalau peringatan 7harian, 40 harian, ... harian setelah kematian bisa dihiasi dengan nuansa islami dan ditalbis sehingga hukumnya berubah menjadi jaiz atau bahkan sunnah, kenapa perayaan yg lain gak bisa?

Nah, biasanya bakalan ada yg bilang :
"ente jangan ngerasa bener sendiri, tong..."
Dan sayapun, bingung.
Apa yg dimauinya dari saya.
Apa saya harus bilang:
"iya, tahlilan itu salah, tapi tahlilan itu jg bener." (Lhah).
Atau dia ingin saya diam dengan kebenaran yg saya yakini, sementara dia mensyiarkan hal yg dia yakini benar (dan saya yakini tidak benar)?
Kalau begitu, dia seharusnya menasehati dirinya sendiri.
Karena dia merasa lebih benar dari orang yang merasa paling benar (bingung, kan).
Maksud saya mbok ya konsekuen dengan omongannya sendiri.
Kalau bilang jangan merasa paling benar sendiri, ya anda jangan merasa paling benar sendiri.
Kalau anda teriak "Tetep jaga ukhuwah/saling menghormati dong, ini kan khilafiyyah (walau menurut saya bukan khilafiyyah)"
Ya ayo...
Silahkan anda mensyiarkan apa yg anda yakini benar, dan kami jg mensyiarkan apa yg kami yakini benar.
Dan biarkan masing-masing orang menimbang dengan hati dan akalnya.
Dah, gitu aja.
Semoga Allaah menunjuki saya, dan anda.
Note:
[1] Baca penjelasan ringkasnya disini :
https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html

Rabu, 20 April 2016

Dan Ketika Keduanya Telah Berusia Lanjut

Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً .

Dan Rabbmu menetapkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "uf (ah)" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
.
قَالَ مُجَاهِدٌ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: إِذَا بَلَغَا عِنْدَك َمِنَ الْكِبَرِ مَا يَبُولَانِ فَلَا تَتَقَذَّرْهُمَا وَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ حِينَ تُمِيطُ عَنْهُمَا الْخَلَاءَ وَالْبَوْلَ كَمَا كَانَا يُمِيطَانِهِ عَنْكَ صَغِيرًا.

Mujahid rahimahullah berkata tentang ayat ini : Apabila kedua orang tua kalian sudah menginjak usia tua lalu mereka buang air, janganlah merasa jijik kepada keduanya.Dan janganlah kalian mengatakan “uf (ah)” karena jijik ketika kalian membersihkan kotoran keduanya dan air kencing keduanya sebagaimana dahulu mereka berdua juga membersihkan kotoran kalian ketika kalian masih kecil

Ma'alimut Tanzil Fil Tafsiril Qur'an (Tafsir Al Baghowi)

Note : Kata “uf (ah)” adalah ungkapan tidak suka yang paling ringan

Minggu, 17 April 2016

Tajwidmu Memang Bagus, Tapi Hatimu Keras

[1]
'Mereka' ingin agar lawan bicara mereka itulah orang yang tidak paham agama...
('Dalam diri mereka') SAYA-lah yang paham agama... Sini SAYA ajari kamu bagaimana yang benar! sini SAYA ajari kamu ayatnya... sini SAYA ajari kamu hadiits... Tahukah kamu begini cara *pemahamannya* atau begitu?
Maka agama itu sendiri yang telah menjadi wadah bagimu untuk mempromosikan egomu...
Ini ironis... Agama itu datang untuk menjadikan kita TAWADHU... Dan sekarang kita malah MENGGUNAKAN AGAMA TERSEBUT untuk MENGEKSPRESIKAN AROGANSI kita...
[2]
Hal pertama yang menjadi masalah adalah HATI yang dipenuhi EGO... Kemudian yang terjadi setelahnya? HATI yang MENGERAS...
Hatimu tidak lagi tergerak dengan KALAAMULLAAH... Hatimu tidak lagi tergerak ketika engkau MENDENGAR AL-QUR`AAN... Sudah sangat LAMAAAA SEKALI sejak terakhir kali engkau MENANGIS dalam SHALATmu... Sudah sangat LAMAAA SEKALI engkau merasa sesuatu (ketika mendengarkan/membaca al-qur`aan)... Meskipun engkau mendengar/membacanya SETIAP WAKTU...
Dan apa yang terlintas dibenakmu (ketika membaca/mendengar al-qur`aan) hanyalah: "saya tidak perlu lagi mendengarnya"... "saya sudah tahu hal ini"... "saya sudah tahu apa yang dikatakannya"...
Juga... Yang terlintas dalam hatimu ketika shalat hanyalah: "qalqalahnya harusnya lebih bagus lagi tuh"... "Madnya kurang panjang tuh"... "itu ghunnah atau apaan? nggak ngerti dah"...
Itulah yang ada dibenakmu ketika engkau shalat...
Engkau tahu itu semua indikasi apa? Engkau TAJWIDNYA memang BAGUS... Tapi HATIMU KERAS...
(Ust Nouman Ali Khan via Ust. Ricky Zulkifli)

Minggu, 10 April 2016

Kekuatan Hamba Yang Beriman


Allaah memberikan kekuatan terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman pada hatinya, bukan pada jasadnya... Bukankah engkau mendapati seorang tua renta yg telah lemah, MAMPU untuk bangun dan shalat malam; disaat para pemuda tidak mampu melakukannya?
- ibnu 'ajlaan
 
(via FP Syaikh Al-Munajjid)

Sabtu, 09 April 2016

Ketika Anda Terlalu Berharap Pada Makhluk

Ketika anda terlalu berharap pada seseorang, Allah akan timpakan kepadamu pedihnya sebuah pengharapan supaya anda mengetahui betapa Allah mencemburui terhadap hati yang berharap kepada selain Dia. Oleh karena itu sering kali Allah akan menghalangimu untuk mendapatkan harapan tersebut agar anda kembali berharap kepada-Nya.

(Al-Ustadz Aris Munandar)

Selasa, 05 April 2016

Kokoh Dalam Ukhuwah

MU'ALLIM NABAWI
Ada yang mengatakan bahwa terdapat hal-hal dari beliau yang tidak kami setujui. Jika itu benar, kemungkinan besar tentu ia disebabkan oleh kebodohan & belum sampainya ilmu kepada kami.
Ada yang mengatakan bahwa terdapat hal-hal dari kami yang tidak beliau setujui. Jika itu benar, kemungkinan besar tentu ia disebabkan oleh ilmu & pemahaman yang ada pada diri beliau.
Tetapi harus diketahui bahwa tidaklah semua itu akan menghalangi dekatnya hati maupun jasad ini; selama ilmu yang jadi penghubung dan penyambung. Karena kesediaan beliau untuk mengajarkan ilmunya pada kami. Dan karena hajat kami yang dahaga akan ilmu yang beliau khidmahi di sini, di Masjid Nabawi.
Dan sungguh kami ingin menambahkan satu keterhubungan lagi selain tangan bersalaman dan wajah bersenyuman, semoga ia menjalinkan hati di sisi Rabb penggenggam langit dan bumi. Ialah doa yang kami panjatkan di kala tak dapat duduk di hadapan majelisnya yang dicurahi rahmat, dinaungi malaikat, dituruni sakinah, & disebut-sebut bangga nama-nama hadirinnya oleh Allah 'Azza wa Jalla; hafizhahuLlaahu wa nafa'anaa bi 'uluumih, Ustadz Firanda Andirja.
Di langit tinggi sejarah yang tak dapat kami gapai permisalannya dengan faqir & dha'ifnya diri, ada teladan indah.
Imam Ad Dzahabi menukil dalam Siyar A’lamin Nubala’, dari Imam Abu Musa Yunus bin ‘Abdil A’la Ash Shadafi Al Mishri, salah satu murid Imam Asy Syafi’i, beliau berkata: “Aku tak melihat ada pemilik akal yang melebihi Imam Asy Syafi’i. Aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, kemudian kami berpisah, lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku dengan tersenyum, kemudian berkata: “Wahai Abu Musa, bukankan kita tetap dapat bersahabat walau kita tak sepakat dalam satu masalah?”
Semoga Allah merahmati para 'Ulama. Mempelajari ilmu mereka barangkali menghabiskan seluruh umur kita. Tapi meneladani akhlaq mereka adalah hajat utama yang harus kita cicil tiada henti.
(Diambil dari tulisan Ustadz Salim A Fillah)

Hafidzahumallah ... Al-Ustadz Firanda Andirja dan Al-Ustadz Salim A Fillah

Menyayangi Seseorang, Karena Allah

Jika ada orang menyayangimu karena sesuatu, maka dia takkan lagi menyayangimu jika sesuatu itu telah hilang. Karena itulah, sayangi orang karena Allah. Jika kamu menyayangi seseorang karena Allah, Dia akan selalu ada, sementara orang tersebut tidak selamanya. Jika kamu kehilangan akannya, kamu takkan kehilangan rahmat Allah. Dan Dia akan berikan kamu ganti yang lebih baik, atau dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.

(Nasehat al-Ustadz Hasan al-Jaizy)

Senin, 04 April 2016

Untuk Para Bujang

Untuk Para Bujang
Jika memang itu galaumu bercerita kenai kekasih yang kau idamkan itu, maka itu wajarmu. Tapi tenggelam di dalamnya pada malam-malam adalah suatu kekonyolan yang takkan terbitkan pelangi setelah derasnya hujan.
Jika galaumu itu kau tuangkan dalam kalimat status, jagalah kalimatnya agar tetap sahaja kau terlihat berjiwa. Dan usahakan meskipun kau bersenandung sedih, berikan dari rasamu itu sebuah inspirasi untuk pembacanya. Jangan biarkan lagu berlirik hampa tunaikan tawa mereka atasmu.
Ada wanita yang sekarang lebih layak kau fikirkan. Dan selalu layak kau fikirkan ia.
Ibumu
Selagi takdir belum tunaikan harapanmu itu, sudikah kau bertanya,'Sudahkan ku tunaikan harapan ibuku padaku?'
Harapan ibumu padamu adalah kau menjadi pembakti. Seberapa ukuran baktimu?
Harapan ibumu padamu agar kau bisa berkhidmat padanya sebelum habis masa lajangmu. Dan seberapa besar khidmatmu padanya?
Kasihlah ibumu kasih yang ia harap, semoga kelak ibu anak-anakmu akan mengasihimu sebaik-baik pengasih memberi kasih. Jangan tenggelam dalam gelombang kasih yang belum terwujud adanya. Selama gelombang kasihmu pada ibu masih bernada, maka jangan hentikan nada itu....hingga terputus tali hayat...entah meninggalnya kamu atau ia. Jangan hilangkan ia sebelum masa tertepatnya. Ridhanya jadikan ridha-Nya pula. Wujudkan.

(Ustadz Hasan al-Jaizy)

Rabu, 30 Maret 2016

Futur? Mohonlah Ketetapan Hati Kepada Allah.

Salah satu nasehat yang sering disampaikan guru nahwu kami adalah, agar kami selalu memohon kepada Allah ketetapan hati diatas jalan hidayah, diatas jalannya para penuntut ilmu (syar'i).
Karena penuntut ilmu itu sebagaimana bintang, tak selamanya bersinar, dan tak selamanya tergantung dilangit, banyak diantaranya yang jatuh berguguran.
Betapa banyak orang, bersemangat diawal-awal mengenal dakwah, diawal-awal meniti jalan hidayah untuk rutin hadir di taman-taman syurga (majelis ilmu).
Namun... seiring bergantinya hari, bulan, dan tahun, semangatnya
mulai terkikis oleh kesibukan dunia, tergantikan oleh 1001 alasan, dan akhirnya... terkapar ianya dipersimpangan jalan.
Karenanya, mohonlah kepada Allah ketetapan hati diatas jalan hidayah, diatas jalannya para penuntut ilmu.

Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami diatas agamaMu dan ketaatan kepadaMu.

(Hafidzahullah guru yang kami cintai karena Allah, al-Ustadz Yogi)

Minggu, 27 Maret 2016

Butuh Proses, Sampai Kapan?


Benar memang bahwa semua orang butuh proses. 
tapi, sampai kapan?
proses itu adalah dari tidak tahu hukumnya lalu tahu dan berupaya keras untuk menjalankannya.
bukan bersembunyi di balik kalimat ''butuh proses'' sebagai penolakan halus terhadap syariat. 

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺫَﺭَّﺓٍ ﻣِﻦْ ﻛِﺒْﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻥَّﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺛَﻮْﺑُﻪُ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻭَﻧَﻌْﻠُﻪُ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺟَﻤِﻴﻞٌﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮُ ﺑَﻄَﺮُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻏَﻤْﻂُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ 

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? ” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. “ (HR. Muslim)
Allaahu ta'ala a'lam.

Hukum Musik

Jika engkau mendapati ada seorang mufti (orang yang berfatwa) menghalalkan musik, maka katakanlah : Sungguh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah benar didalam ucapannya.
Karena beliau pernah bersabda : Sungguh akan datang sekelompok kaum dari kalangan umatku yang menghalalkan zina, sutra, khomr dan alat-alat musik (HR Bukhari).
-Syaikh Masyhur Hasan Salman-