Sabtu, 06 Agustus 2016

Teladan Dalam Mencari Rizki

Kemarin siang, di lampu merah di jalan Gajahmada, Semarang, saya melihat seorang gadis kecil berumur 7 tahunan yang menjajakan koran. Lalu ada seorang Ibu yang membonceng sepeda motor mengulurkan uang dua ribuan ke anak tersebut.
Anak tersebut menolak, karena Ibu tersebut ternyata tak ingin membeli koran, hanya ingin memberi uang kepadanya. Ibu itu terus mengulurkan uang, bahkan dilempar ke atas koran yang disunggi di kepala anak kecil itu.
Uang tersebut lalu jatuh ke tanah, tertiup angin. Anak tersebut dengan sigap mengejar dan memungut uang itu. Lalu diberikan kembali kepada sang Ibu. Ibu itu menolak.
Sang anak menangis dan berujar: "Aku dodolan koran, bu.. Duduk ngemis...", menegaskan dia berjualan koran, bukan mengemis.
Ibu itu akhirnya menerima uang itu, dan lampu keburu hijau. Anak itu menangis terus sambil berjalan gontai ke pinggir jalan.
Tak tega, saya mencari tempat untuk parkir motor, mendatangi anak itu. lalu saya ajak ngobrol. Rupanya anak tersebut merasa sakit hati dan terhina juga sedih karena diperlakukan seperti pengemis.
Kagum benar saya dengannya. Karena saya tahu dia tak mau menerima uang pemberian, maka saya berniat membeli koran saja. Sepuluh eksemplar, ujar saya. Ajaibnya dia berujar:
"Opo njenengan mau baca sepuluh koran sekaligus, Pakdhe? Satu saja..".
(Gusti, karena engkau sebaik-baik penjaga dan pecinta, jaga anak kecil itu dan kucuri cinta sebanyak-banyaknya.)

[Tulisan Akh Rifai Subagyo]