Selasa, 26 April 2016

Galau


Kegundahan dan kesedihan itu karena dua perkara :
1. Terlalu berhasrat terhadap dunia dan mati-matian mengejarnya.
Atau
2. Jarang melakukan kebaikan dan amal shalih.
(Ibnul Qayyim - 'Iddatu ash-Shabiriin wa Dzukhriyyaty asy-Syaakiriin)

Senin, 25 April 2016

Kesedihan (Ibnul Qayyim)

KESEDIHAN itu melemahkan hati, memupuskan cita, berdampak buruk pada impian. Tidak ada yang lebih disukai setan melebihi kesedihan seorang mu'min. (Ibnul Qoyyim)

Khutbah Haji Wada'

Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah haji wada' :
"Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kamu semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci.Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian!
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-’Abbas bin’Abdul-Muththalib.
Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.
Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi, ia bangga jika kamu dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejak Allah menjadikan langit dan bumi.
Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu.Tetapi, jika mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang jika kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!
Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi tiap-tiap pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas.
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!
Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang jika kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al Quran).
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!
(Diceritakan kembali oleh Andita Sely B dari sebuah hadis yang dituturkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Ente Jangan Ngerasa Bener Sendiri, Tong...

Saya, termasuk orang yg tidak membenarkan adanya ritual-ritual baru dalam islam.
Seperti peringatan kematian (dengan tahlilan) [1], natalan dengan shalawatan (eh- kalau yg ini belum ada), atau juga nyepian dengan i'tikafan (yg ini jg belum ada).
"Loh, kok jadi ngelantur kemana-mana?"
Lha iya, kalau peringatan 7harian, 40 harian, ... harian setelah kematian bisa dihiasi dengan nuansa islami dan ditalbis sehingga hukumnya berubah menjadi jaiz atau bahkan sunnah, kenapa perayaan yg lain gak bisa?

Nah, biasanya bakalan ada yg bilang :
"ente jangan ngerasa bener sendiri, tong..."
Dan sayapun, bingung.
Apa yg dimauinya dari saya.
Apa saya harus bilang:
"iya, tahlilan itu salah, tapi tahlilan itu jg bener." (Lhah).
Atau dia ingin saya diam dengan kebenaran yg saya yakini, sementara dia mensyiarkan hal yg dia yakini benar (dan saya yakini tidak benar)?
Kalau begitu, dia seharusnya menasehati dirinya sendiri.
Karena dia merasa lebih benar dari orang yang merasa paling benar (bingung, kan).
Maksud saya mbok ya konsekuen dengan omongannya sendiri.
Kalau bilang jangan merasa paling benar sendiri, ya anda jangan merasa paling benar sendiri.
Kalau anda teriak "Tetep jaga ukhuwah/saling menghormati dong, ini kan khilafiyyah (walau menurut saya bukan khilafiyyah)"
Ya ayo...
Silahkan anda mensyiarkan apa yg anda yakini benar, dan kami jg mensyiarkan apa yg kami yakini benar.
Dan biarkan masing-masing orang menimbang dengan hati dan akalnya.
Dah, gitu aja.
Semoga Allaah menunjuki saya, dan anda.
Note:
[1] Baca penjelasan ringkasnya disini :
https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html

Rabu, 20 April 2016

Dan Ketika Keduanya Telah Berusia Lanjut

Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيماً .

Dan Rabbmu menetapkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "uf (ah)" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
.
قَالَ مُجَاهِدٌ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: إِذَا بَلَغَا عِنْدَك َمِنَ الْكِبَرِ مَا يَبُولَانِ فَلَا تَتَقَذَّرْهُمَا وَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ حِينَ تُمِيطُ عَنْهُمَا الْخَلَاءَ وَالْبَوْلَ كَمَا كَانَا يُمِيطَانِهِ عَنْكَ صَغِيرًا.

Mujahid rahimahullah berkata tentang ayat ini : Apabila kedua orang tua kalian sudah menginjak usia tua lalu mereka buang air, janganlah merasa jijik kepada keduanya.Dan janganlah kalian mengatakan “uf (ah)” karena jijik ketika kalian membersihkan kotoran keduanya dan air kencing keduanya sebagaimana dahulu mereka berdua juga membersihkan kotoran kalian ketika kalian masih kecil

Ma'alimut Tanzil Fil Tafsiril Qur'an (Tafsir Al Baghowi)

Note : Kata “uf (ah)” adalah ungkapan tidak suka yang paling ringan

Minggu, 17 April 2016

Tajwidmu Memang Bagus, Tapi Hatimu Keras

[1]
'Mereka' ingin agar lawan bicara mereka itulah orang yang tidak paham agama...
('Dalam diri mereka') SAYA-lah yang paham agama... Sini SAYA ajari kamu bagaimana yang benar! sini SAYA ajari kamu ayatnya... sini SAYA ajari kamu hadiits... Tahukah kamu begini cara *pemahamannya* atau begitu?
Maka agama itu sendiri yang telah menjadi wadah bagimu untuk mempromosikan egomu...
Ini ironis... Agama itu datang untuk menjadikan kita TAWADHU... Dan sekarang kita malah MENGGUNAKAN AGAMA TERSEBUT untuk MENGEKSPRESIKAN AROGANSI kita...
[2]
Hal pertama yang menjadi masalah adalah HATI yang dipenuhi EGO... Kemudian yang terjadi setelahnya? HATI yang MENGERAS...
Hatimu tidak lagi tergerak dengan KALAAMULLAAH... Hatimu tidak lagi tergerak ketika engkau MENDENGAR AL-QUR`AAN... Sudah sangat LAMAAAA SEKALI sejak terakhir kali engkau MENANGIS dalam SHALATmu... Sudah sangat LAMAAA SEKALI engkau merasa sesuatu (ketika mendengarkan/membaca al-qur`aan)... Meskipun engkau mendengar/membacanya SETIAP WAKTU...
Dan apa yang terlintas dibenakmu (ketika membaca/mendengar al-qur`aan) hanyalah: "saya tidak perlu lagi mendengarnya"... "saya sudah tahu hal ini"... "saya sudah tahu apa yang dikatakannya"...
Juga... Yang terlintas dalam hatimu ketika shalat hanyalah: "qalqalahnya harusnya lebih bagus lagi tuh"... "Madnya kurang panjang tuh"... "itu ghunnah atau apaan? nggak ngerti dah"...
Itulah yang ada dibenakmu ketika engkau shalat...
Engkau tahu itu semua indikasi apa? Engkau TAJWIDNYA memang BAGUS... Tapi HATIMU KERAS...
(Ust Nouman Ali Khan via Ust. Ricky Zulkifli)

Minggu, 10 April 2016

Kekuatan Hamba Yang Beriman


Allaah memberikan kekuatan terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman pada hatinya, bukan pada jasadnya... Bukankah engkau mendapati seorang tua renta yg telah lemah, MAMPU untuk bangun dan shalat malam; disaat para pemuda tidak mampu melakukannya?
- ibnu 'ajlaan
 
(via FP Syaikh Al-Munajjid)

Sabtu, 09 April 2016

Ketika Anda Terlalu Berharap Pada Makhluk

Ketika anda terlalu berharap pada seseorang, Allah akan timpakan kepadamu pedihnya sebuah pengharapan supaya anda mengetahui betapa Allah mencemburui terhadap hati yang berharap kepada selain Dia. Oleh karena itu sering kali Allah akan menghalangimu untuk mendapatkan harapan tersebut agar anda kembali berharap kepada-Nya.

(Al-Ustadz Aris Munandar)

Selasa, 05 April 2016

Kokoh Dalam Ukhuwah

MU'ALLIM NABAWI
Ada yang mengatakan bahwa terdapat hal-hal dari beliau yang tidak kami setujui. Jika itu benar, kemungkinan besar tentu ia disebabkan oleh kebodohan & belum sampainya ilmu kepada kami.
Ada yang mengatakan bahwa terdapat hal-hal dari kami yang tidak beliau setujui. Jika itu benar, kemungkinan besar tentu ia disebabkan oleh ilmu & pemahaman yang ada pada diri beliau.
Tetapi harus diketahui bahwa tidaklah semua itu akan menghalangi dekatnya hati maupun jasad ini; selama ilmu yang jadi penghubung dan penyambung. Karena kesediaan beliau untuk mengajarkan ilmunya pada kami. Dan karena hajat kami yang dahaga akan ilmu yang beliau khidmahi di sini, di Masjid Nabawi.
Dan sungguh kami ingin menambahkan satu keterhubungan lagi selain tangan bersalaman dan wajah bersenyuman, semoga ia menjalinkan hati di sisi Rabb penggenggam langit dan bumi. Ialah doa yang kami panjatkan di kala tak dapat duduk di hadapan majelisnya yang dicurahi rahmat, dinaungi malaikat, dituruni sakinah, & disebut-sebut bangga nama-nama hadirinnya oleh Allah 'Azza wa Jalla; hafizhahuLlaahu wa nafa'anaa bi 'uluumih, Ustadz Firanda Andirja.
Di langit tinggi sejarah yang tak dapat kami gapai permisalannya dengan faqir & dha'ifnya diri, ada teladan indah.
Imam Ad Dzahabi menukil dalam Siyar A’lamin Nubala’, dari Imam Abu Musa Yunus bin ‘Abdil A’la Ash Shadafi Al Mishri, salah satu murid Imam Asy Syafi’i, beliau berkata: “Aku tak melihat ada pemilik akal yang melebihi Imam Asy Syafi’i. Aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, kemudian kami berpisah, lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku dengan tersenyum, kemudian berkata: “Wahai Abu Musa, bukankan kita tetap dapat bersahabat walau kita tak sepakat dalam satu masalah?”
Semoga Allah merahmati para 'Ulama. Mempelajari ilmu mereka barangkali menghabiskan seluruh umur kita. Tapi meneladani akhlaq mereka adalah hajat utama yang harus kita cicil tiada henti.
(Diambil dari tulisan Ustadz Salim A Fillah)

Hafidzahumallah ... Al-Ustadz Firanda Andirja dan Al-Ustadz Salim A Fillah

Menyayangi Seseorang, Karena Allah

Jika ada orang menyayangimu karena sesuatu, maka dia takkan lagi menyayangimu jika sesuatu itu telah hilang. Karena itulah, sayangi orang karena Allah. Jika kamu menyayangi seseorang karena Allah, Dia akan selalu ada, sementara orang tersebut tidak selamanya. Jika kamu kehilangan akannya, kamu takkan kehilangan rahmat Allah. Dan Dia akan berikan kamu ganti yang lebih baik, atau dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.

(Nasehat al-Ustadz Hasan al-Jaizy)

Senin, 04 April 2016

Untuk Para Bujang

Untuk Para Bujang
Jika memang itu galaumu bercerita kenai kekasih yang kau idamkan itu, maka itu wajarmu. Tapi tenggelam di dalamnya pada malam-malam adalah suatu kekonyolan yang takkan terbitkan pelangi setelah derasnya hujan.
Jika galaumu itu kau tuangkan dalam kalimat status, jagalah kalimatnya agar tetap sahaja kau terlihat berjiwa. Dan usahakan meskipun kau bersenandung sedih, berikan dari rasamu itu sebuah inspirasi untuk pembacanya. Jangan biarkan lagu berlirik hampa tunaikan tawa mereka atasmu.
Ada wanita yang sekarang lebih layak kau fikirkan. Dan selalu layak kau fikirkan ia.
Ibumu
Selagi takdir belum tunaikan harapanmu itu, sudikah kau bertanya,'Sudahkan ku tunaikan harapan ibuku padaku?'
Harapan ibumu padamu adalah kau menjadi pembakti. Seberapa ukuran baktimu?
Harapan ibumu padamu agar kau bisa berkhidmat padanya sebelum habis masa lajangmu. Dan seberapa besar khidmatmu padanya?
Kasihlah ibumu kasih yang ia harap, semoga kelak ibu anak-anakmu akan mengasihimu sebaik-baik pengasih memberi kasih. Jangan tenggelam dalam gelombang kasih yang belum terwujud adanya. Selama gelombang kasihmu pada ibu masih bernada, maka jangan hentikan nada itu....hingga terputus tali hayat...entah meninggalnya kamu atau ia. Jangan hilangkan ia sebelum masa tertepatnya. Ridhanya jadikan ridha-Nya pula. Wujudkan.

(Ustadz Hasan al-Jaizy)