Saya, termasuk orang yg tidak membenarkan adanya ritual-ritual baru dalam islam.
Seperti peringatan kematian (dengan tahlilan) [1], natalan dengan shalawatan (eh- kalau yg ini belum ada), atau juga nyepian dengan i'tikafan (yg ini jg belum ada).
"Loh, kok jadi ngelantur kemana-mana?"
Lha iya, kalau peringatan 7harian, 40 harian, ... harian setelah kematian bisa dihiasi dengan nuansa islami dan ditalbis sehingga hukumnya berubah menjadi jaiz atau bahkan sunnah, kenapa perayaan yg lain gak bisa?
Nah, biasanya bakalan ada yg bilang :
"ente jangan ngerasa bener sendiri, tong..."
Dan sayapun, bingung.
Apa yg dimauinya dari saya.
Apa saya harus bilang:
"iya, tahlilan itu salah, tapi tahlilan itu jg bener." (Lhah).
Atau dia ingin saya diam dengan kebenaran yg saya yakini, sementara dia mensyiarkan hal yg dia yakini benar (dan saya yakini tidak benar)?
Kalau begitu, dia seharusnya menasehati dirinya sendiri.
Karena dia merasa lebih benar dari orang yang merasa paling benar (bingung, kan).
Maksud saya mbok ya konsekuen dengan omongannya sendiri.
Kalau bilang jangan merasa paling benar sendiri, ya anda jangan merasa paling benar sendiri.
Kalau anda teriak "Tetep jaga ukhuwah/saling menghormati dong, ini kan khilafiyyah (walau menurut saya bukan khilafiyyah)"
Ya ayo...
Silahkan anda mensyiarkan apa yg anda yakini benar, dan kami jg mensyiarkan apa yg kami yakini benar.
Dan biarkan masing-masing orang menimbang dengan hati dan akalnya.
Dah, gitu aja.
Semoga Allaah menunjuki saya, dan anda.
Note:
[1] Baca penjelasan ringkasnya disini :
https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html
Seperti peringatan kematian (dengan tahlilan) [1], natalan dengan shalawatan (eh- kalau yg ini belum ada), atau juga nyepian dengan i'tikafan (yg ini jg belum ada).
"Loh, kok jadi ngelantur kemana-mana?"
Lha iya, kalau peringatan 7harian, 40 harian, ... harian setelah kematian bisa dihiasi dengan nuansa islami dan ditalbis sehingga hukumnya berubah menjadi jaiz atau bahkan sunnah, kenapa perayaan yg lain gak bisa?
Nah, biasanya bakalan ada yg bilang :
"ente jangan ngerasa bener sendiri, tong..."
Dan sayapun, bingung.
Apa yg dimauinya dari saya.
Apa saya harus bilang:
"iya, tahlilan itu salah, tapi tahlilan itu jg bener." (Lhah).
Atau dia ingin saya diam dengan kebenaran yg saya yakini, sementara dia mensyiarkan hal yg dia yakini benar (dan saya yakini tidak benar)?
Kalau begitu, dia seharusnya menasehati dirinya sendiri.
Karena dia merasa lebih benar dari orang yang merasa paling benar (bingung, kan).
Maksud saya mbok ya konsekuen dengan omongannya sendiri.
Kalau bilang jangan merasa paling benar sendiri, ya anda jangan merasa paling benar sendiri.
Kalau anda teriak "Tetep jaga ukhuwah/saling menghormati dong, ini kan khilafiyyah (walau menurut saya bukan khilafiyyah)"
Ya ayo...
Silahkan anda mensyiarkan apa yg anda yakini benar, dan kami jg mensyiarkan apa yg kami yakini benar.
Dan biarkan masing-masing orang menimbang dengan hati dan akalnya.
Dah, gitu aja.
Semoga Allaah menunjuki saya, dan anda.
Note:
[1] Baca penjelasan ringkasnya disini :
https://almanhaj.or.id/2272-tahlilan-selamatan-kematian-adalah-bidah-munkar-dengan-ijma-para-shahabat-dan-seluruh-ulama-islam.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar